Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSIKOLOGI PENDIDIKAN. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2010

APLIKABILITAS METODE-METODE PENELITIAN


Adsense Indonesia
Motode penelitian berguna untuk mempelajari perilaku-perilaku yang mempunyai frekuensi relatif tinggi, untuk menaksir perilaku-perilaku umum seperti agresi, penarikan sosial, keramahan, dan perhatian, dan dapat pula digunakan untuk mengevaluasi suatu kemajuan anak dari waktu ke waktu.
Dalam pelaksanaannya seorang peneliti tidak melulu harus melakukan observasi secara secara natural, akan tetapi pada kasus-kasus tertentu yang jarang terjadi dan muncul hanya karena stimuli yang sangat spesifik mungkin akan lebih baik jika peneliti melakukan observasi eksperimen. Asumsi penggunaan observasi eksperimen ini adalah bahwa suatu situasi yang diusahakan dapat menstimulasi munculnya perilaku-perilaku penting dengan lebih cepat dan efisien dibanding suatu situasi yang secara natural. Kelemahan penggunaan observasi eksperimen ini adalah peneliti tidak membiarkan sesuatu yang tidak terduga yang mungkin merupakan sebuah informasi penting, selain itu dimungkinkan subjek yang diteliti tidak memberi respon secara spontan.

DOWNLOAD FULL TEKS DISINI .

DOWNLOAD POWERPOINT DISINI .
Continue Reading...

TES PRESTASI


banner180

diskon belanja 5% gunakan

Kode hadianto di lessthanthirteen


Dalam bidang psikologi tes dikategorikan kedalam tes non kognitif & tes kognitif.

Tes non kognitif, disebut juga tes performansi tipikal, adalah seperangkat tes yang apabila tes tersebut dikenakan kepada testee (orang yang dikenai tes)maka testee akan memberikan respon yang sesuai dengan tipikal kepribadiannya. Setiap jawaban yang diberikan oleh testee pada tes non kognitif tidak pernah dinilai benar atau salah, setiap jawaban yang sesuai dengan perasaan testee itu dianggap jawaban yang paling baik. Termasuk dalam kategori tes Non Kognitif adalah 1. Tes-tes kepribadian seperti: tes 16 PF, tes EPPS, tes CAQ, tes MMPI, tes NSQ, tes TAT, tes CAT, tes Rho. 2. Tes Minat seperti: RMIB, Kuder. 3. Tes sikap seperti: Tes Kraepelin.

Tes kognitif atau disebut tes performansi maksimal, adalah seperangkat tes yang apabila dikenakan pada testee, maka testee akan merespon dengan kemampuan maksimal yang dimilikinya untuk merespon tes tersebut. Jawaban testee pada tes ini akan dinilai benar dan salah, dan dalam pengerjaannya selalu dibatasi oleh waktu, berbeda dengan tes Non kognitif yang tidak pernah ada batasan waktu. Termasuk dalam kategori tes kognitif ini adalah: 1. Tes IQ yang mengukur kemampuan umum atau faktor G (kemampuan yang dimiliki oleh setiap orang), contoh tes yang masuk dalam kategori tes IQ adalah: tes CFIT, tes WAIS, tes WISC, tes BINET, tes IST,tes CPM, tes TINTUM, tes TIKI, 2. Tes Bakat atau tes yang mengukur kemampuan spesifik, atau bakat, atau faktor s, contoh tes yang masuk dalam kategori ini adalah: tes DAT, FACT, 3. Tes prestasi.

Tes prestasi belajar atau biasa dikenal dengan achievement test, merupakan bagian dari tes kognitif. Perbedaan yang paling esensial antara tes kognitif yang lain denga tes prestasi adalah terletak pada materi tes. Pada tes prestasi, testee yang hendak dikenai sebuah pengetesan telah memiliki gambaran tentang soal-soal yang akan diberikan dan bagaimana dia akan memberikan jawaban, sementara pada tes IQ dan tes bakat tidak demikian.

Mengenai prosedur perakitan soal tes, tidak terdapat perbedaan yang cukup berarti, jika terlebih dahulu dilakukan uji psikometri pada soal-soal tes prestasi sebelum digunakan. Uji psikometri bertujuan untuk menganalisis taraf kesukaran soal (apakah soal terlalu sulit, terlalu mudah atau cukup) dan daya pembeda soal (apakah soal dapat membedakan antara siswa dengan kemampuan rendah dengan siswa yang berkemampuan tinggi).

Prosedur konstruksi tes prestasi adalah sebagai berikut:
1. Melakukan identifikasi tujuan dan kawasan ukur.
2. Menentukan batas perilaku dan kompetensi.
3. Menentukan kompnen isi atau indikator.
4. Membuat blue print
5. Menulis aitem.
6. Mentelaah aitem apakah sudah sesuai dengan tujuan & kawasan ukur atau belum.
7. Uji coba
8. Analisis item.
9. Perakitan tes & penyususnan instruksi (diambil dari item yang falid).
10. Melakukan uji reliabilitas.
11. Bentuk final (tes siap pakai).

Untuk menentukan tujuan & kawasan ukur, menentukan batasan kompetensi, menentukan komponen isi atau indikator & untuk membuat blue print, diperlukan beberapa data sebagai berikut:
1. RPP DOWNLOAD RPP DISINI .
2. Silabus DOWNLOAD SILABUS DISINI .
3. PROTA DOWNLOAD PROTA DISINI .

Tulisan ini saya posting untuk mempermudah pemahaman para mahasiswa di program studi psikologi IAIN sunan Ampel Surabaya, dalam mengidentifikasi tujuan & kawasan ukur. Semoga dapat membantu.
Continue Reading...

Kamis, 18 Maret 2010

KEMANDIRIAN EMOSI


Adsense Indonesia
Malam ini ada salah satu mahasiswa saya di program studi psikologi IAIN Sunan Ampel Surabaya yang mengirim pesan ke Facebook saya. Intinya mahasiswa yang tersebut meminta bantuan referensi teori kemandirian untuk keperluan mengerjakan skripsi. Kebetulan saya tidak punya koleksi buku-buku kemandirian. Kebetulan yang saya punya dan barangkali bisa membantu, hanya skripsi dalam format file pdf yang saya peroleh dari internet beberapa bulan yang lalu. Saya juga sudah lupa dari URL mana skripsi tersebut saya download. Mau saya kirim lewat e-mail, rasanya kurang pas di hati, akhirnya saya posting disini supaya bisa membantu orang lain yang mungkin juga sedang membutuhkan. Sebelumnya saya minta ijin pada URL yang memberikan file ini secara gratis kepada saya, ijin untuk membagikan file ini kepada orang lain yang membutuhkan. Semoga bermanfaat.

Berikut file skripsi dengan judul kemandirian emosi yang saya maksud.

DOWNLOAD BAB I .

DOWNLOAD BAB II .

DOWNLOAD BAB III .

DOWNLOAD BAB IV .

DOWNLOAD BAB V .

DOWNLOAD DAFTAR PUSTAKA .
Continue Reading...

INSTING EROS


banner180

diskon belanja 5% gunakan

Kode hadianto di lessthanthirteen
Kemarin malem, Rabu 17 Maret 2010 sekitar pukul 20.00 WIB saya keluar dari kos-kosan untuk membeli nasi goreng. Kebetulan ada nasi goreng keliling yang berhenti tepat di depan kos saya dan kebetulan pas perut da laper. Secara kebetulan pula, saat saya mau menghampiri penjual nasi goreng tersebut, tiba-tiba ada bapak sekitar +/ umur 40 tahun menghampiri saya. Mungkin karena sudah memendam perasaan yang dialaminya dan tidak mampu dibendung lagi, Bapak tersebut langsung bercerita kepada saya. " Mas seharian ini saya mencari kos-kosan, tapi sampai malam ini saya belum mendapatkannya, saya sudah keliling kesana kemari tapi semua kos-kosan yang saya temui selalu minta 350, 400 bahkan ada yang 500 per bulan, saya tidak mampu kalau harus membayar sebanyak itu, saya ini kerja di daerah Menanggal (Surabaya) Mas, bayaran saya Cuma 300 ribu per bulan, saya kepingin mencari kos-kosan yang harga per bulannya sekitar 75 ribu – 100 ribu, supaya ada sisa buat makan dan keluarga di kampung Mas, satu bulan ini saya tidur di mushollah (Tempat sembahyang orang Islam), lama-lama saya malu Mas, saya kerja berangkat jam 5 pagi karena masuknya jam 6 dan pulang jam 6 sore". Mendengar cerita Bapak tersebut saya jadi empati dalam hati saya bergumam " Ya Allah sungguh besar nikmat yang selama ini telah engkau berikan, jadikan hamba orang-orang yang selalu bersyukur dengan rizki-Mu ya Allah". Saya juga bingung harus bilang apa ke Bapak tersebut, saya sempat menawarkan kos-kosan di daerah gang dosen, kebetulan teman adik saya ada yang kos disana dengan harga 100 per bulan (itu kalau kamarnya ditempati dua orang), tetapi karena harus berkumpul dengan mahasiswa Bapaknya keberatan. Akhirnya saya sarankan supaya Bapak yang aslinya dari Nganjuk Jawa Timur ini untuk menanyakan kos-kosan di sebelah timurnya JATIM EXPO, karena motor saya lagi dipakai oleh adik jadi saya dengan terpaksa tidak mengantarkan Bapak tersebut. Bapak itu pun berjalan menuju tempat yang saya tunjukkan, dan saya segera memesan nasi goreng. Setelah saya kembali ke kos-kosan, tiba-tiba terlintas dalam benak saya, Kalau nanti tidak menemukan kos-kosan Bapak tadi akan tidur dimana?...dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya, tapi yang paling membuat saya menyesal adalah, saya tidak berpesan kepada Bapaknya jika tidak mendapatkan kos-kosan supaya kembali ke kos-kosan saya. Pertanyaan-pertanyaan tersebut satu hari ini mengganggu pikiran saya, tadi siang saya sudah menceritakan kejadian ini sebagai motivasi buat Mahasiswa saya di Program Studi Psikologi IAIN Sunan Ampel Surabaya, sepulang dari kampus saya langsung cerita ke adik saya, tapi rasanya belum lega. Saya coba menulisnya di blog kesayangan ini untuk menghilangkan penyesalan saya.

KENAPA BAPAK TERSEBUT RELA KERJA DI SURABAYA DENGAN BAYARAN HANYA 300 PER BULAN (MASUK JAM 6 PAGI PULANG JAM 6 SORE), DAN SELAMA SATU BULAN INI BAPAK TERSEBUT RELA TIDUR DI MUSHOLLAH (TEMPAT SEMBAHYANG ORANG ISLAM) ?????

Pertanyaan di atas akan kita coba analisa dengan teori psikoanalisa dalam disiplin ilmu psikologi.

Psikoanalisa merupakan salah satu aliran besar dalam disiplin ilmu psikologi. Tokoh dari aliran ini adalah Sigmund Freud. Menurut aliran ini manusia lahir dengan membawa dua insting, pertama insting eros, ke dua insting tanatos. Eros adalah insting kehidupan, melalui insting ini setiap orang akan selalu berusaha mempertahankan kehidupan dirinya serta keturunannya, karena insting ini pula manusia melakukan kegiatan reproduksi untuk memperbanyak keturunan. Tanatos adalah insting kematian, insting ini akan mendorong setiap orang untuk selalu berusaha mencari sebuah kesenangan atau melakukan tindakan-tindakan yang bersifat destruktif.

Kenapa dalam cerita di atas Bapak tersebut mau bekerja pagi hingga sore meskipun hanya dibayar 300 ribu per bulan, dan kenapa Bapak tersebut rela harus tidur di Mushollah selama 1 bulan hanya untuk mendapat 300 ribu per bulan. Tentu saja karena perilaku rela berkorban untuk kelangsungan hidup tersebut di dorong oleh insting eros.

Untuk memperkaya wawasan tentang insting, bisa baca artikel di bawah ini.

The life instinct or Eros was one of the two basic instincts described by Freud in Beyond the Pleasure Principle (1920g) when he began to construct his structural theory, in which the life instinct stands opposed to the death instinct. The life instinct subsumed uninhibited sexual instincts, instinctual impulses inhibited in respect of their aim and sublimated, and the instincts of self-preservation.

In contrast to the monism of Jung and Adler, Freud upheld a dualistic theory with respect to the instincts. Up until his discovery of narcissism (1914c), he contrasted the sexual instincts, directed toward outside objects, to the ego-instincts, which included the instincts of individual self-preservation. But then his theory needed modifying in order to respond to the discovery that the ego itself could become the sexual object (1914c). Narcissistic libido thus became a manifestation of the pressure of the sexual instincts, and the former dichotomy between ego-instincts and sexual instincts lost its force. Part of the ego-instincts, namely the self-preservative instincts, were now seen as libidinal in nature, and the main conflict became that between narcissistic and autoerotic instincts, that is, between two forms of the sexual instinct.

With the turning-point of the early 1920s, Freud introduced the hypothesis of a death instinct to account for phenomena of repetition that were independent of the pleasure principle, indeed susceptible of opposing that principle (1920g). His dualistic imperative led him to group both the sexual and the self-preservative instincts under the head of the life instincts, as opposed to the death instincts.

In The Ego and the Id, Freud maintained his position on the need to distinguish between the two classes of instincts: "the task of [the death instinct] is to lead organic life back into the inanimate state; on the other hand . . . Eros, by bringing about a more and more far-reaching combination of the particles into which living substance is dispersed, aims at complicating life and at the same time, of course, at preserving it" (i.e., in the interest of evolution). "Life itself," Freud added, "would be a conflict and compromise between these two trends" (1923b, pp. 40, 41). Deeming his "fundamental dualistic point of view" inescapable, Freud was "driven to conclude that the death instincts are by their nature mute and that the clamor of life proceeds for the most part from Eros" (p. 46).

Freud held firm to the dualistic view until the end of his life, as witness these lines from his Outline of Psycho-Analysis: "After long hesitancies and vacillations we have decided to assume the existence of only two basic instincts, Eros and the destructive instinct." The aim of Eros was to "establish ever greater unities," so preserving life; but if "binding together" was thus the task of the life instincts, the aim of the death instincts was "to undo connections and so to destroy things" (1940a [1938], p. 148).

In distinguishing between life and death instincts, Freud sought to introduce a duality within the notion of instinct itself. The outcome was a dual instinct that could be described as two instincts that are so entangled, so melded, that the one can barely have meaning outside of its relationship with the other. This instinctual entanglement arises through the indispensable mediation of the object. Effective instinctual functioning requires that the life instinct serve to bind the death instinct. When the instincts become disentangled, notes Benno Rosenberg, "the subject's cathexis of the object is so massive that he will have difficulty differentiating himself from it. So intense and unbearable is the excitation that the subject will resort to a splitting of the ego" (1991).

The beneficial contribution of the death instinct, as imbricated with the life instinct, is that it allows a tolerable distance to be maintained between subject and object, thus facilitating the working out of the subject's wishes.

Bibliography

Freud, Sigmund (1914c). "On narcissism: An introduction." SE, 14: 73-102.

——. (1920g). Beyond the pleasure principle. SE, 18: 1-64.

——. (1923b). The ego and the id. SE, 19: 1-66.

——. (1940a [1938]). An outline of psycho-analysis. SE, 23: 139-207.

Green, André. (2001). Life narcissism, death narcissism (Andrew Weller, Trans.). London and New York: Free Association Books. (Original work published 1983)

Grunberger, Béla. (1979). Narcissism: Psychoanalytic essays (Joyce S. Diamanti, Trans.). New York: International Universities Press. (Original work published 1971)

Rosenberg, Benno. (1991). Masochisme mortifère et masochisme gardien de la vie. Paris: Presses Universitaires de France.

Continue Reading...

Senin, 25 Mei 2009

PENGELOLAAN STRES KERJA PADA GURU DENGAN MANAJEMEN SIFAT BAYI


PENGELOLAAN STRES KERJA PADA GURU
DENGAN MANAJEMEN SIFAT BAYI

Oleh: Prasetyo Budi Widodo, S.Psi., M.Si.*

A. PENDAHULUAN
Pembangunan jangka panjang Indonesia bertujuan untuk membentuk manusia Indonesia seutuhnya, karena itu diperlukan pendidikan dalam rangka membentuk sumber daya manusia yang berkualitas, sebagaimana tercantum dalam UUD Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan merupakan faktor penting karena pendidikan bertujuan untuk meningkatkan penguasaan pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan pengembangan sikap dan nilai-nilai dalam rangka pembentukan dan pengembangan individu.
Proses pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, serta lingkungan kerja. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama karena dalam lingkungan inilah anak pertama kali mendapatkan pendidikan, bimbingan, asuhan, pembiasaan, dan latihan. Hal ini tidak lepas dari peran keluarga. Menurut Sudjana (dalam Rakhmat & Gandaatmaja,1993), berdasarkan pendekatan budaya, sekurang-kurangnya keluarga mempunyai tujuh fungsi, yaitu biologis, religius, proteksi, sosialisasi anak, rekreasi, ekonomi, dan edukasi. Dalam fungsi edukatif, orang tua berperan dalam mengasuh, membimbing, memberi contoh, dan membelajarkan anak. Sebagai peserta didik, anak berperan melakukan kegiatan belajar, menghayati, dan melaksanakan apa yang telah diajarkan.
Lingkungan pendidikan kedua setelah keluarga adalah sekolah. Pendidikan di sekolah bersifat formal karena di sekolah terdapat kurikulum sebagai rencana pendidikan dan pengajaran, guru-guru yang lebih profesional, sarana dan prasarana khusus sebagai pendukung pendidikan, serta pengelolaan pendidikan yang juga khusus. Pengetahuan dan keterampilan yang diberikan sekolah merupakan kelanjutan dari pendidikan keluarga, namun tingkatannya lebih tinggi dan lebih komplek sesuai dengan tahap penjenjangan. Pengetahuan tersebut bersumber dari disiplin ilmu atau permasalahan yang berkembang dalam masyarakat (Sukmadinata, 2003). DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

Konseling Kelompok : Manajemen stres yang efektif bagi mahasiswa Indonesia di Malaysia


Konseling Kelompok :
Manajemen stres yang efektif bagi mahasiswa Indonesia di Malaysia

Hamidah * dan Woelan Handadari **
*Pelajar P.hD Universiti Kebangsaan Malaysia
Fakulti Sain Sosial dan Kemanusiaan
Program Psikologi Kaunseling
**Fakultas Psikologi
Universitas Airlangga Surabaya


Abstrak

Mahasiswa merupakan kelompok usia yang memiliki tugas dan tanggungjawab sosial yang cukup berat. Selain tanggungjawab sebagai pelajar dengan tugas yang berat dan kompetitif, juga tugas remaja sebagai masa transisi dari usia remaja ke usia dewasa serta tugas penyesuaian dengan budaya di negara asing. Ketiga kondisi ini menuntut konsekwensi yang berat bagi seseorang untuk dapat menyesuaikan diri secara cepat pada tugas tersebut, terutama bagi individu yang belum terbiasa hidup berpisah dengan orang tua atau keluarganya.
Mahasiswa Indonesia sebagai individu yang belajar di negara lain memerlukan beberapa penyesuaian, antara lain : penyesuaian bahasa dan budaya, penyesuaian pola dan metode belajar, penyesuaian dengan tugas-tugas kuliah yang berbeda (baik mahasiswa degree, master maupun yang doktoral) serta penyesuaian sistem peperiksaaan (ujian) yang berbeda dengan sistem yang sedikit berbeda dengan model pembelajaran di Indonesia. Sedangkan mahasiswa sebagai kelompok usia yang berada pada masa transisi adalah perubahan tugas perkembangan, yaitu: orientasi pada tugas belajar, menyelesaikan tugas mendapatkan pekerjaan, tugas untuk membangun relasi dengan lawan jenis, tugas menghadapi perkawinan, tugas mengasuh anak, tugas rumah tangga (sebagai isteri, suami, ibu dan ayah) serta tugas sebagai pencari nafkah. Terakhir tugas mahasiswa sebagai pelajar di negara asing yaitu menyesuaikan diri dengan budaya lain, hidup bersama dengan keluarga lain dalam satu rumah, memahami dan menerima pola-pola perilaku yang berbeda dari orang lain.DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

MANAJEMEN WAKTU DENGAN STRES AKADEMIK PADA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI DI MAKASSAR


MANAJEMEN WAKTU DENGAN STRES AKADEMIK
PADA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI DI MAKASSAR


Irma
Mahasiswa S2 Program Pascasarjana UGM
M. Daud & Asniar Khumas
Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar

ABSTRAK
Mahasiswa kurang mampu mangelola diri dan waktu, sehingga sering mengalami stres akademik pada saat menempuh pendidikan di perguruan tinggi (PT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Hubungan antara manajemen waktu dengan stres akademik pada mahasiswa di Makassar; 2) Perbedaan tingkat stres akademik antara mahasiswa laki-laki dan perempuan di PT di Makassar; 3) Faktor-faktor yang menyebabkan (sumber) stres akademik mahasiswa; 4) Bentuk-bentuk reaksi stres yang ditunjukkan oleh mahasiswa di PT di Makassar
Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini adalah skala stres akademik dan skala manajemen waktu. Pemilihan subjek penelitian dengan menggunakan teknik purposive random sampling. Subjek penelitian ini adalah mahasiswa dibeberapa perguruan tinggi di Makassar. Jumlah subjek adalah 100 orang. Data dianalisis dengan menggunakan program analisis regresi sederhana dan uji t (t-test) dari Program SPSS for windows 11.0 release 2005.
Hasil uji statistik menunjukan bahwa: 1) Terdapat hubungan yang negatif antara manajemen waktu dengan stres akademik pada mahasiswa di Makassar DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

MENCIPTAKAN REWARD SEBAGAI KIAT MENGATASI STRESS PADA TIM PENDUKUNG ATLET ANAK-ANAK TAEKWONDO


MENCIPTAKAN REWARD SEBAGAI KIAT MENGATASI
STRESS PADA TIM PENDUKUNG ATLET
ANAK-ANAK TAEKWONDO



Arundati Shinta
Fakultas Psikologi Universitas Proklamasi 45
Yogyakarta

ABSTRACT

Being in an isolated and bored location whilst huge office works and household tasks are neglected, really is a stressful situation. Parents should be in that situation for two hours per day or five times per week because of their commitments to support children’s desire to be a taekwondo athlete. Parents would be more and more stress when children’s academic performances decrease drastically because of this Korean martial arts activity. Because of those reasons then parents behave negatively such as refusing to accompany children to the dojang (a place for taekwondo exercise), to manage children’s healthy food menu, to give financial contribution regularly to the athlete’s parent organization, and refusing to be the athlete’s supporting team. Some parents really recognize that the negative behaviors have significant effect on lowering the probability for children to have more optimal performances on taekwondo. They therefore adjust themselves through an unusual method of coping stress e.g. creating rewards from that stressful situation. Actually this is an application of the cognitive dissonance theory proposed by Leon Festinger several decades ago. According to that theory, people must justify any effort positively (e.g. try to create a reward) when they are enforced in an inconvenient situation in order to obtain a more consonance cognitive situation. When the reward is very small because of too difficult to obtain, then people are more likely to value it and they tend to create more rewards. Their objective is to deal with the stress with intention to support children’s outstanding performance in the taekwondo activity.

Key words: stressful situation, taekwondo athlete, cognitive dissonance, reward. DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

PARENTING STRESS DAN PENGELOLAANNYA


PARENTING STRESS DAN PENGELOLAANNYA

Sri Lestari
Fakultas Psikologi
Universitas Muhammadiyah Surakarta

ABSTRAK

Masa menjadi orang tua (parenthood) merupakan salah satu tahap perkembangan yang dijalani kebanyakan orang dan bersifat universal. Melalui lembaga keluarga, orang tua menjalankan tugas-tugas utama keluarga yakni perlindungan, perawatan, dan sosialisasi anak. Tugas-tugas tersebut biasanya disebut parenting. Parenting adalah hubungan yang berlangsung sepanjang waktu dan bersifat dinamis. Dalam interaksi ini, perilaku orang tua kepada anak seringkali merupakan reaksi terhadap perilaku anak, seiring dengan perkembangan anak.
Bila parenthood bersifat universal, parenting tidak universal. Berdasarkan tinjauan model ekologis, Berns (2004) memaparkan pengaruh macrosystem, mesosystem, microsystem dan chronosystem terhadap parenting. Pengaruh macrosystem terjadi melalui ideologi politik, budaya, status ekonomi, dan nilai-nilai sosial yang berkontribusi terhadap sosialisasi dan perkembangan anak. Mesosystem berpengaruh terhadap pola asuh dan jalinan kerjasama orang tua dengan sekolah dan masyarakat yang dapat menjadi kolaborasi atau menimbulkan konflik. Efek microsystem terhadap anak terjadi melalui relasi orang tua – anak dalam keluarga yang berupa pola asuh orang tua. Chronosystem berpengaruh melalui terjadinya perubahan trend parenting dari waktu ke waktu seiring dengan perubahan masyarakat dan tekanannya terhadap keluarga.
DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

Efektivitas pelatihan Efikasi Diri untuk mengurangi Stres pada Mahasiswa yang Sedang Skripsi


Efektivitas pelatihan Efikasi Diri untuk mengurangi Stres pada Mahasiswa yang Sedang Skripsi

Oleh :
Faridah Ainur Rohmah


PENGANTAR
Stres dan ketidakpuasan merupakan aspek yang tidak dapat dihindari oleh individu. Siapa pun dapat terkena stres baik anak-anak, remaja maupun dewasa. Mahasiswa termasuk golongan remaja akhir yang tidak luput dari stres. Para mahasiswa oleh orangtua dan masyarakat umum sudah dianggap dewasa dan mampu menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi.
Di pendidikan tinggi mahasiswa dituntut untuk lebih mandiri dalam segala hal dan mampu mengambil keputusan sendiri. Berbeda sekali di pendidikan dasar sampai menengah mereka masih dibimbing dan diarahkan secara penuh. Perubahan ini banyak menimbulkan masalah penyesuaian dan berakibat negatif pada prestasi belajar dan performansinya secara keseluruhan.
Mahasiswa diharapkan mampu berprestasi yang ditunjukkan dengan IPK (Indeks Prestasi Komulatif) yang tinggi dan didukung oleh studi yang lancar dan lulus tepat waktu. Fakta menunjukkan berbeda, banyak mahasiswa yang tercatat telah melewati masa studinya. Mereka terbebani oleh tugas-tugas, praktikum dan skripsi atau tugas akhir. Skripsi memang merupakan tugas yang membuat cemas. Banyak mahasiswa yang terbebani oleh skripsi, demikian pula mahasiswa Fakultas Psikologi UAD. Tidak sedikit mahasiswa yang gagal atau lama lulusnya karena masalah skripsi.
DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

Terapi Humor untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Mahasiswa Baru


Terapi Humor untuk Menurunkan Tingkat Stres pada Mahasiswa Baru

Atika Dian Ariana

Fakultas Psikologi Universitas Airlangga

Masa awal diterima sebagai anggota lingkungan akademis kampus atau masa-masa menjadi mahasiswa baru seringkali disertai oleh beberapa konflik. Dalam kerangka akademis, status dan peran sebagai seorang mahasiswa seringkali memberikan konsekuensi psikologis yang memberatkan bagi seseorang. Banyak penelitian menyimpulkan bahwa ujian, praktikum dan tugas-tugas kuliah yang lain memicu timbulnya stres yang berhubungan dengan peristiwa akademis (academic stress); yang dalam tingkat keparahan tinggi dapat menekan tingkat ketahanan tubuh (Taylor, 1991:477).

Salah satu penelitian tentang stres pada mahasiswa dilakukan oleh Glasser (dalam Taylor, 1991:478) yang mengukur parameter kekebalan tubuh dan psikologis terkait dengan stres menghadapi ujian. Pengukuran dilakukan pada 40 siswa tahun kedua mulai 6 minggu sebelum ujian sampai 6 minggu setelah ujian. Berdasarkan analisa skor pre-test dan post-test ditemukan peningkatan gejala stres serta penurunan tingkat kekebalan tubuh yang signifikan (Suryani, 2004:70). Penelitian Glasser tersebut sekaligus menunjukkan bahwa mahasiswa merupakan kelompok yang memiliki potensi besar untuk mengalami stres. Di lain pihak, stresor akademik sangat sulit bahkan tidak mungkin untuk ditiadakan. Sementara, lingkungan sosial cenderung menuntut seorang mahasiswa untuk dapat memenuhi harapan-harapan mereka, seperti nilai tinggi, aktif berorganisasi, berpikir kritis, dan sebagainya dengan optimal.

DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.
Continue Reading...

Senin, 18 Mei 2009

SUKSES BELAJAR DENGAN BOCSoft


PENDAHULUAN

Pembaca suhadianto.blogspot.com yang budiman, beberapa hari yang lalu saya berkunjung ke www. http://bocsoft.net. Ada hal yang sangat menarik perhatian saya dalam web ini....apa sich kayaknya penting banget?..sampai-sampai mas Suhadianto harus bercerita kepada pembaca...web ini menyediakan softwer untuk keperluan BELAJAR SUKSES, dan sofwer ini dibuat langsung oleh Microsoft...Nah dibawah ini sedikit saya cuplikkan penjelasan mengenai softwer tersebut. Tapi lebih jelasnya langsung meluncur saja ke web-nya, biar lebih jelas, baca tutorial penggunaannya dan cari link dowloadnya dibagian bawah...Gratiss
KLIK DISINI UNTUK MELUNCUR KE WEB-NYA
.
.


Apa itu BOCSoft eQuestion?
Rata Penuh

* BOCSoft eQuestion adalah aplikasi manajemen pengetahuan yang dibuat dengan Microsoft® Office oleh BOCSoft sebagai mitra terdaftar Microsoft.
* BOCSoft eQuestion alat untuk mengumpulkan, meringkas, merangkai ilmu pengetahuan yang metode pembelajarannya melalui gabungan beberapa cara, yaitu:
o Membaca
o Mendengar
o Melihat
o Melatih
o Mengulang

Dengan fitur yang ada seperti membuat dokumen, menghubungkan file suara atau video, kumpulan soal-soal, berlatih dengan kumpulan tes maka BOCSoft eQuestion telah mempertimbangkan semua aspek bagian tubuh yang perlu digunakan pada saat belajar seperti mata, telinga, tangan dan pikiran.
* Filosofi BOCSoft eQuestion adalah AIM – CURIOSITY – SPEED.
o Bidik apa yang ingin diketahui.
o Tumbuh kembangkan keingintahuan.
o Dapatkan pengetahuan dengan cepat.

Dalam dunia yang penuh perubahan dan luasnya ilmu pengetahuan maka kita dituntut untuk memilih bidang apa yang perlu kita pelajari, bagaimana kita bisa mempelajari bidang tersebut dengan cepat dan mendalam. Hampir tidak mungkin satu orang bisa menguasai hampir segala bidang. Membidik apa yang ingin diketahui, mengembangkan keingintahuan dan mendapatkan ilmu pengetahuan dengan cepat adalah faktor penting yang perlu dipertimbangkan oleh siswa dalam menuntut ilmu secara berkesinambungan.
Belajar langsung dari pertanyaan-pertanyaan juga adalah salah satu teknik membaca dan belajar cepat yang dapat diterapkan untuk kesuksesan dalam belajar. Dengan tersedianya pembahasan-pembahasan maka pembelajaran akan langsung menuju ke sasaran. Pertanyaan-pertanyaan yang dibuat dengan baik juga dapat meningkatkan keingintahuan dari pembelajar. Keingintahuan yang besar dari pembelajar akan meningkatkan kesuksesan dalam belajar.

2.3. Mengapa Memerlukan BOCSoft eQuestion?

* Mempercepat belajar
* Mempercepat pengajaran
* Menghemat biaya dan waktu
* Umpan balik yang cepat.

BOCSoft eQuestion dapat mempercepat belajar dengan adanya fasilitas untuk membuat soal, dokumen, bacaan, menghubungkan file video, latihan tes dan umpan balik dari hasil tes secara cepat. Dengan bervariasinya jenis pembelajaran maka belajar bisa menjadi sesuatu hal yang menyenangkan dilakukan.

BOCSoft eQuestion juga mempercepat pengajaran bila pengajar telah menyiapkan bahan-bahan yang menarik dan bermutu. Hanya dengan membagikan satu database yang mungkin bisa digunakan untuk satu tahun secara terus menerus dan kemudahan dalam perubahannya maka hal ini akan mempercepat pengajaran karena tidak lagi diharuskan membuat dari awal lagi. Tidak perlu lagi guru harus menulis di depan papan tulis yang pada akhirnya menghabiskan waktu yang berharga yang seharusnya diisi dengan tanya jawab atau berdiskusi.

Karena pembelajaran dapat dilakukan secara elektronik maka proses belajar dan mengajar akan menghemat penggunaan kertas, walaupun dalam aplikasi tersedia fasilitas untuk mencetak. Tidak perlu lagi mengumpulkan koleksi soal dalam bentuk kertas yang akan memenuhi rak lemari. Satu database bisa menyimpan maksimal 290.344 pertanyaan dengan besar maksimum 2 GB (gigabyte). Jika satu keping DVD berkapasitas 4 GB maka dalam satu DVD bisa menyimpan 580.688 soal-soal. Jika satu kertas bisa menampung kurang lebih 7 soal maka akan diperlukan 82.955 lembar. Jika kertas berukuran F4 (21,5 cm x 33 cm) beratnya 80 gram/m2 maka beratnya akan kurang lebih sama dengan 555,8 kg atau sama dengan 55 kuintal kertas lebih. Berapa lemari yang harus disiapkan untuk menyimpan kertas-kertas tersebut?
Continue Reading...

Selasa, 28 April 2009

BEBERAPA TIPS DALAM MENENTUKAN KARIR


Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh orang tua, pendidik dan para siswa dalam menentukan karir:

1. IDENTIFIKASI KEMAMPUAN KAMU
Contoh: Kemampuan dalam bidang matematika, olah raga, Fisika, Kimia, Musik, Kemampuan menjalin hubungan sosial, Kemampuan berkomunikasi, dll.

2. IDENTIFIKASI KELEMAHAN KAMU
Contoh: Tidak dapat menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan angka, Sulit berkomunikasi dengan orang lain, Sulit bersosialisasi dengan orang lain, dll.

3. IDENTIFIKASI MINAT KAMU
Contoh: Minat terhadap bidang olah raga, ilmu biologi, insinyur, penegak hukum, matematika, aktris, pilot, sekretaris, guru, pekerja sosial, penulis, dll.


4. PILIH KARIR YANG SESUAI DENGAN MINAT KAMU.

5. EVALUASI KEMAMPUAN KAMU, APAKAH SUDAH MENDUKUNG TERHADAP PILIHAN KARIR KAMU ATAU BELUM.
Jika kemampuan yang kamu miliki belum mendukung pilihan karir kamu, buat rencana jangka pendek, jangka menengah & jangka panjang untuk mengembangkan kemampuan kamu.


CONTOH RENCANA JANGKA PENDEK, MENENGAH DAN JANGKA PANJANG

PILIHAN KARIR: Ingin menjadi guru

KEMAMPUAN KHUSUS YANG DIBUTUHKAN: Kemampuan membaca dan memahami. Kemampuan berkomunikasi.

RENCANA JANGKA PENDEK: Latihan memahami isi buku pelajaran. Latihan membaca dengan baik. Latihan berbicara di depan kelas. Latihan menyampaikan pendapat di depan teman-teman.

RENCANA JANGKA MENENGAH: Melanjutkan sekolah ke SMA Negeri.

RENCANA JANGKA PANJANG: Melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri.


BERIKUT INI ADALAH CONTOH BEBERAPA BIDANG PEKERJAAN DAN KEMAMPUAN KHUSUS (SELAIN KEMAMPUAN UMUM) YANG DIBUTUHKAN:

? PEGAWAI BANK
Kemampuan mengingat.
Kemampuan memberi sandi.
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan matematika.

? GURU
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan berkomunikasi.

? MANAJER PERUSAHAAN ATAU PENGUSAHA
Kemampuan mengingat.
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan matematika.
Kemampuan berkomunikasi.

? INSINYUR
Kemampuan mengenal objek yang disusun dari bagian-bagian.
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan mengenal bagian-bagian dari objek.

? POLISI
Kemampuan mengingat.
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan berkomunikasi.
Kemampuan mengidentifikasi bagian-bagian yang penting.

? PENULIS
Kemampuan mengingat.
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan berkomunikasi.

? PSIKOLOG
Kemampuan membaca dan memahami.
Kemampuan berkomunikasi.
Continue Reading...

TIPS MEMBACA DAN BELAJAR YANG BAIK


Sebagian dari pembaca mungkin pernah merasa bahwa belajarnya selama ini sia-sia dan sebagian dari pembaca mungkin pernah mengeluh, KENAPA HARUS BELAJAR KALAU NILAI SAYA TETAP JELEK? KENAPA TEMAN SAYA BISA DAPAT NILAI BAGUS SEMENTARA SAYA TIDAK?. Coba anda koreksi berlajar anda, apakah selama ini belajar anda sudah memperhatikan beberapa faktor yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar ataukah belum sama sekali. Kalau setelah membaca anda menemukan beberapa kondisi dibawah pada diri anda, itu artinya cara belajar anda sudah memperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar, dan sebaliknya:

1. Dapat memahami isi buku yang telah dibaca.
2. Dapat mengambil kesimpulan dari isi buku yang telah dibaca.
3 Dapat mengingat sebagian besar dari isi buku yang telah dibaca.
4. Dapat menghafal isi buku yang telah dibaca.
5. Informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibaca dapat bertahan lama dalam ingatan.


TIPS BELAJAR DAN MEMBACA YANG BAIK

1. PERHATIKAN SUASANA HATI. Ciptakan suasana hati yang positif untuk belajar, dengan memilih waktu dan tempat yang menyenangkan. Cara lain untuk menciptakan suasana hati yang positif dalam belajar adalah dengan mengetahui manfaat dari materi yang sedang kita pelajari, karena tanpa mengetahui manfaat biasanya minat belajar kita akan menurun dan tentu saja dapat berpengaruh pada suasana hati saat belajar. De Porter dan Hernacky dalam bukunya Quantum Learning, memberi tips untuk meningkatkan minat terhadap materi pelajaran tertentu. Caranya adalah dengan selalu bertanya Apa Manfaat BagiKu (AMBAK) sebelum mempelajari sesuatu.

2. Tumbuhkan Motivasi dalam diri. Untuk menumbuhkan motivasi belajar adalah dengan cara mengetahui relevansi materi pelajaran yang sedang kita pelajari dengan realitas atau kegunaan materi tersebut dalam kehidupan. Sebagai contoh untuk menumbuhkan motivasi belajar pada pelajaran matematika kita harus tahu relevansi materi penjumlahan dengan realitas (kalau tidak menguasai penjumlahan maka penjaga toko tidak akan dapat menghitung berapa duit yang telah dikeluarkan pada hari ini untuk belanja roti), relevansi materi pengurangan dengan realitas (Kalau tidak menguasai pengurangan maka penjaga toko akan kesulitan menghitung uang kembalian dari salah satu pembeli), dan lain sebagainya. Dengan mengetahui relevansi dari materi yang kita pelajari terhadap kehidupan kita, maka kita akan dapat menumbuhkan motivasi dalam diri kita.

3. GUNAKAN MUSIK JIKA PERLU. Jika mengalami kesulitan dalam berkonsentrasi, kita dapat menggunakan musik-musik klasik seperti Mozart untuk meningkatkan konsentrasi

4. Tandai materi pelajaran yang tidak kamu pahami.Pada saat kita sedang membaca pasti akan menemukan beberapa kata yang mungkin belum kita fahamai, apa yang harus kita lakukan? Beri tanda pada kalimat yang tidak kita pahami dan lanjutkan membaca.

5. Setelah mempelajari satu paragraph berhentilah sebentar dan ulangi hasil bacaanmu dengan bahasa kamu sendiri.

6. Kembali pada materi yang tidak kamu pahami, cari di buku lain, atau diskusikan dengan guru di sekolah.

7. Buatlah pertanyaan dari materi pelajaran yang telah kamu baca.

8. Buat ringkasan materi pelajaran yang telah kamu baca.

9. Lakukan pengulangan terhadap pelajaran yang telah diberikan oleh guru di sekolah.


BEBERAPA TIPS MENGHAFAL
Ada beberapa tips dalam menghafal materi pelajaran yang harus kita ketahui agar kita tidak mengalami kesulitan dalam menghafal materi pelajaran:

1. Menghafal dengan membaca dalam hati. Cara menghafal yang pertama ini diperuntukkan bagi anda yang memiliki gaya belajar visual. Orang yang memiliki gaya belajar ini biasanya lebih mudah memahami materi dengan menggunakan penglihatan atau lebih mudah memahami materi dengan membaca sendiri daripada jika dijelaskan oleh guru atau dijelaskan oleh teman.

2. Menghafal dengan membaca dengan keras sampai terdengar oleh telinga. Cara menghafal yang kedua ini diperuntukkan bagi anda yang memiliki gaya belajar auditorial atau lebih mudah memahami materi dari penjelasan guru atau penjelasan teman daripada harus membaca sendiri.

3. Menghafal dengan jalan menulis diatas kertas, atau menggerak gerakkan jari diatas meja. Cara menghafal yang ketiga ini diperuntukkan bagi anda yang memiliki gaya belajar kinestetik.

Masih bingung dengan gaya belajar anda?. Lebih mudahnya begini, Kalau kamu lebih mudah menerima informasi dari teman melalui SMS daripada melalui telpon berarti gaya belajarmu Visual, Kalau kamu lebih mudah menerima informasi dari teman melalui telepon daripada melalui SMS berarti gaya belajar kamu auditorial, Nah.... kalau kamu sering mencoret-coret buku telepon saat menerima telepon dari teman atau dari do'i, emmm...atau kalau kamu suka menjadikan meja belajar kamu di sekolah sebagai drum (klotean tak duk duk duk tak duk duk) berarti gaya belajar kamu kinestetik. Masih juga bingung? KLIK DISINI UNTUK DOWNLOAD PEDOMAN IDENTIFIKASI GAYA BELAJAR SEMOGA BERMANFAAT.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.

KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

KONSELING BERJENJANG DALAM MANAJEMEN STRES SEBAGAI TERAPAN PSIKOLOGI KLINIS MAKRO DI INDONESIA


KONSELING BERJENJANG DALAM MANAJEMEN STRES
SEBAGAI TERAPAN PSIKOLOGI KLINIS MAKRO
DI INDONESIA

Ieda Poernomo Sigit Sidi


I. Pendahuluan

Kondisi dan situasi yang dijumpai/dialami seseorang dalam menjalani kehidupan memengaruhi kondisi kesehatan mental, di antaranya bisa menimbulkan stresor atau penyebab dialaminya stres, yaitu tekanan mental yang dirasakan mengganggu keseimbangan emosional dan karenanya dapat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk dirinya maupun orang lain/lingkungan. Stres yang dialami memerlukan penanganan yang tergantung gradasinya akan menentukan macam pertolongan yang diperlukan. Ada penanganan stres yang bisa dilakukan oleh non-profesional namun ada pula yang harus ditangani secara profesional. Bantuan profesional diperlukan bagi mereka yang mengalami stres berat karena dapat menimbulkan gangguan anxietas dan psikosomatis. Sedangkan gangguan stres yang termasuk kategori ringan bisa saja ditangani oleh non-profesional yang sudah terlatih. Stres yang tergolong sedang bisa dibantu oleh tenaga semi-profesional.

Stres dimaknai sebagai tekanan psikologis yang bisa ditimbulkan oleh faktor di dalam maupun di luar diri. Arti stres secara rinci diuraikan sebagai berikut,

The word ‘stress’ has come to signify the whole subject of pressure and/or stimulation and how people cope with it. An optimal amount of pressure is considered necessary for healthy adaptation: people are motivated to negotiate, anticipate, avoid or enjoy certain stressors. Too little pressure may fostervboredom and depression. Too much pressure (heavy workload, trauma, divorce, financial hardship, etc) can test coping resources severely. The experience of chronically high stress levels can create anxiety and psychosomatic illness.

(Feltham & Dryden, 1993)


Manajemen stres perlu dikembangkan agar penanganan stres bisa dilakukan secara luas, melibatkan semua pihak terkait, di tiap lini, sesuai kemampuan dan kewenangannya. Konseling penanganan stres dilakukan sesuai area permasalahannya yang terbagi dalam penanganan segera (immediate services) dan penanganan biasa (regular services).

Feltham & Dryden (1993) mengemukakan tentang manajemen stres dalam uraian berikut:

Stress management has evolved out of the concern within organisations to address occupational stress (which has both human and organisational costs). Methods of stress management include reorganising one’s workload , assertively declaring one’s boundaries, challenging one’s traditional beliefs, and finding a healthy balance between work, home life, recreation, etc. DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

PENINGKATAN STATUS MENTAL ATLET DIY DENGAN MENTAL TRAINING


PENINGKATAN STATUS MENTAL ATLET DIY DENGAN MENTAL TRAINING
Singgih Santoso
Universitas Gajah Mada
MATERI TEMU ILMIAH IPPI V

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Olahraga merupakan aktivitas yang bersifat multidimensional sehingga banyak faktor ikut berperan dalam mewujudkan keberhasilannya. Di samping faktor fisik, faktor mental pun memiliki peran yang sangat menentukan terutama ketika atlet melakukannya untuk
mencapai puncak prestasi dalam situasi yang sangat kompetitif. Di lapangan sering kita lihat seorang atlet atau tim yang sudah mempunyai kemampuan fisik yang baik, teknik yang sempurna, dan sudah dibekali berbagai taktik, tetapi tidak dapat mewujudkannya dengan baik di arena pertandingan/perlombaan, dan akhirnya mengalami kekalahan. Banyak ahli olahraga berpendapat bahwa tingkat pencapaian prestasi puncak sangat ditentukan oleh kematangan dan ketangguhan mental atlet dalam mengatasi berbagai kesulitan selama bertanding. Salah satu aspek kematangan mental ditentukan oleh tingkat kematangan emosi. Banyak atlet yang tidak sukses mewujudkan kemampuan
optimalnya hanya karena rasa cemas dan takut gagal yang berlebihan. Ketakutan atau kecemasan yang melampaui batas ambang control seseorang mengakibatkan kehilangan konsentrasi dan justru menurunkan kemampuannya. Ada lima kondisi yang menghambat pencapaian prestasi optimal yaitu: (1) takut untuk gagal; (2) takut akan penilaian negative; (3) khawatir terjadi cidera; (4) situasi yang tidak pasti, dan (5) takut untuk mencoba hal yang baru (Cox, 2002). Adapun tingkat kematangan emosi terdiri atas empat tahap yang saling berkaitan yaitu: (1) emotional awareness, (2) emotional acceptance, (3) emotional affection, dan (4) emotional affirmation (Martin, 2003). Pada prinsipnya tahap yang terdahulu menjadi dasar kuat untuk menuju tahap berikutnya. Tingkat kematangan emosi ini dapat diukur melalui serangkaian tes yang disebut Emotional Maturity Assessment (Martin, 2003). DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

BUNUH DIRI (Studi Kasus Tentang Etiologi Dan Profil Kepribadian Remaja Dengan Percobaan Bunuh Diri)


BUNUH DIRI (Studi Kasus Tentang Etiologi Dan Profil Kepribadian Remaja Dengan Percobaan Bunuh Diri)
Ichlas Nanang Afandi
Diah Karmiyati
Cahyaning Suryaningrum
Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

PENDAHULUAN

Bunuh diri dewasa ini menjadi suatu trend. Jumlah kasus bunuh diri bertambah tiap tahun. Jika dulu bunuh diri hanya marak terjadi di dunia barat, maka kasus serupa menjadi begitu mudah kita jumpai di Indonesia. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Polda Metro Jaya, selama tahun 2003 tercatat ada 62 kasus bunuh diri. Jumlah tersebut lebih besar tiga kali lipat dibanding kasus serupa selama tahun 2002. Sementara pada Tahun 2004 hingga bulan Juni terdapat 38 kasus (Alia, September 2005). Di dunia barat sendiri, data penelitian yang dikemukakan oleh Marcott (dalam Nasution, 2003) menyebutkan jika dari 20 kasus percobaan bunuh diri di Amerika, ada satu kasus bunuh diri yang sukses. Lebih lanjut, 2,9 % populasi penduduk Amerika Serikat pernah melakukan percobaan bunuh diri, dan setidaknya ada 1.760 kasus percobaan bunuh diri perhari. Pada tahun 2001, setidaknya ada sekitar 3.971 kasus bunuh diri dan lebih dari 132.000 kasus percobaan bunuh diri di Amerika Serikat. Penelitian tentang bunuh diri sendiri telah banyak dilakukan, baik mengenai epidemiologi, faktor risiko (etiologi), terapi maupun prevensi. Namun untuk Indonesia, hal ini masih sangat terbatas (Fajar, Minggu 6 November 2005).
Salah satu fase perkembangan yang berisiko tinggi terjadinya perilaku bunuh diri adalah fase remaja-dewasa awal. Hal ini dapat dimengerti mengingat fase remaja-dewasa awal, merupakan fase perkembangan yang stresornya sangat banyak. Penelitian-penelitian tentang bunuh diri atau percobaan bunuh diri, juga banyak difokuskan pada usia remaja. Stuart dan Sundeen (dalam Keliat, 1994) menyatakan bahwa usia remaja merupakan usia di mana bunuh diri menjadi penyebab kematian nomor dua. Data tahun 1994 di Australia, menyebutkan jika paling kurang ada sekitar 430 penduduk Australia berusia 15-24 tahun. DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

STIMULASI PRENATAL : MENDIDIK ANAK SEJAKDALAM KANDUNGAN ( Belajar dari Budaya Sabar lan Prihatin dan Budaya Ora Ilok Di Jawa )


STIMULASI PRENATAL : MENDIDIK ANAK SEJAKDALAM KANDUNGAN ( Belajar dari Budaya Sabar lan Prihatin dan Budaya Ora Ilok Di Jawa )
Herdina Indrijati
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
MATERI TEMU ILMIAH IPPI V

1. Pendahuluan
Pada saat kita hamil, ingatkah dulu kita pada petuah ibu atau nenek kita bahwa selama kita hamil maka banyak pantangan yang harus kita taati dan banyak anjuran yang harus kita jalankan. Misalnya saja ibu kita pernah berkata “Nek mbobot kudu sabar lan prihatin, ben anakmu yo melu sabar. Nek kowe ora sabar, mengko anakmu yo mesti melu ora sabaran” (Kalau hamil harus sabar, biar anak kita ikut sabar. Kalau ibunya tidak sabar maka nantinya anak kita juga mesti tidak sabaran). Atau kita selalu diingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif (dalam budaya Jawa disebut ora ilok), misalnya ”ojo mateni kewan” (jangan membunuh hewan, ”ojo lungguh ning tengah lawang” (jangan duduk di pintu), dan masih banyak lagi yang lainnya. Sebenarnya, hikmah luhur apakah yang
ada dibalik budaya tersebut? Pada dasarnya ajaran dan pantangan dalam budaya Jawa tersebut amatlah menghargai kondisi kehamilan seorang wanita. Begitu istimewanya masa kehamilan seorang ibu sehingga harus diberikan batasan-batasan yang tujuannya adalah mendidik anak sejak dari dalam kandungan dengan harapan si janin akan berkembang dengan sehat kondisi lahir dan batinnya. Sebenarnya bagaimanakah hubungan antara budaya saba/prihatin dan ora ilok tersebut dalam kaitannya dengan
stimulasi prenatal? DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

POLA PENGASUHAN KELUARGATERHADAP ANAK TERBELAKANG MENTAL: STUDI KASUS SEBUAH KELUARGA DI INDONESIA


POLA PENGASUHAN KELUARGATERHADAP ANAK TERBELAKANG MENTAL: STUDI KASUS SEBUAH KELUARGA DI INDONESIA
Wiwin Hendriani
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
MATERI TEMU ILMIAH IPPI V


PENDAHULUAN
Tidak semua individu dilahirkan dalam keadaan normal. Beberapa di antaranya memiliki keterbatasan baik secara fisik maupun psikologis, yang telah dialami sejak awal masa perkembangan. Keterbelakangan mental adalah salah satu bentuk gangguan yang dapat ditemui di berbagai tempat, dengan karakteristik penderitanya yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata (IQ di bawah 75), dan mengalami kesulitan dalam beradaptasi maupun melakukan berbagai aktivitas sosial di lingkungan. Penderita keterbelakangan mental memiliki fungsi intelektual umum yang secara signifikan berada di bawah rata-rata, dan lebih lanjut kondisi tersebut akan memberikan pengaruh terhadap terjadinya gangguan perilaku selama periode perkembangan (Hallahan & Kauffman, 1988).
Masalah keterbelakangan mental, seperti dikemukakan oleh Budhiman (dalam Sembiring, 2002), memang perlu mendapatkan perhatian mengingat sejumlah tulisan sejak periode 1981 telah mengemukakan bahwa keterbelakangan atau retardasi mental merupakan masalah yang cukup besar di Indonesia, meskipun tetap diakui tidak ada data yang lengkap dan pasti tentang jumlah mereka di negara ini. Ketidaklengkapan data tersebut dimungkinkan karena tidak semua penderita dapat tercatat. Selama ini pencatatan sebatas dilakukan pada penderita yang datang berobat atau memeriksakan diri, serta mereka yang terdaftar di sekolah-sekolah luar biasa. Terlepas dari bagaimanapun kondisi yang dialami, pada dasarnya setiap manusia memiliki hak yang sama untuk memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Setiap orang berhak untuk tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang kondusif dan suportif, termasuk bagi mereka yang mengalami keterbelakangan mental. Akan tetapi realita yang terjadi tidaklah selalu demikian. Di banyak tempat, baik secara langsung maupun tidak, individu berkebutuhan khusus ini cenderung ‘disisihkan’ dari lingkungannya. Penolakan terhadap mereka tidak hanya dilakukan oleh individu lain di sekitar tempat tinggalnya, namun beberapa bahkan tidak DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...

MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL PADA PERMASALAHAN CHILD MALTREATMENT


MEMAHAMI KEARIFAN LOKAL PADA PERMASALAHAN CHILD MALTREATMENT
Oleh: Duta Nurdibyanandaru
Fakultas Psikologi Universitas Airlangga
MAKALAH TEMU ILMIAH IPPI V

ABSTRAK
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan hidup dalam kemajemukan budaya dan pranata sosial. Saat ini beberapa wilayah Indonesia, tengah dilanda bencana, baik akibat ulah manusia maupun yang alami. Hal ini sudah tentu menambah permasalahan bagi keluarga yang tertimpa musibah atau akibat bencana tersebut maupun masyarakat pada umumnya. Bagaimana mereka menyikapi hal tersebut, bergantung pada bagaimana mereka memberi makna atau memaknainya. Pemberian
makna atas suatu peristiwa atau kejadian diwarnai oleh budaya yang berlaku dan mempengaruhi pemaknaan orang bersangkutan atas segala peristiwa yang dialami dalam kehidupan mereka. Demikian pula dengan masalah maltreatment pada anak. Sering kali kita sebagai psikolog yang notabene dididik dengan konsep dan model-model asesmen hingga intervensi dari Barat, beranggapan bahwa hal tersebut pasti sesuai diterapkan untuk kasus-kasus di Indonesia. Dalam prakteknya, maltreatment yang mencakup aspek emosi dari abuse tidak semudah itu dipahami. Hadiyono (2000: 33-55), dalam beberapa penelitiannya mengenai emosi dan ekspresinya dalam masyarakat, menemukan bahwa mengenai emosi (termasuk ekspresinya) dan komunikasi nonverbal, baik di Indonesia dan di luar Indonesia, banyak yang perlu dipertimbangkan menyangkut pengertian pada tiap budaya mengenai kedua istilah tersebut. Nichols (2004) dari pengalaman mengajar dan praktek terapi keluarga menengarai adanya dua pemaknaan oleh orang tua terhadap arguing (berbantahan) oleh anak, yang dapat mengarah ke maltreatment, yakni: (a) “To present reasons for point of view” dan “to persuade by reason” atau (b) “isn’t an exercise in reasoning; it’s emotional bullying”. Di sebagian masyarakat kita, berbantahan dengan orang tua atau orang yang dituakan adalah hal tabu, bahkan dicap anak durhaka (sekalipun untuk alasan butir a. tersebut). Jika kita melangkah dengan kerangka berpikir ecosystem dari Urie Bronfenbrenner (Santrock, 2004) dalam mencermati masalah child maltreatment, maka nasehat Fontes (2005) DOWNLOAD TULISAN LENGKAP DISINI.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA ARTIKEL TERKAIT
.


KLIK DISINI UNTUK MEMBACA TULISAN-TULISAN SAYA DALAM BENTUK MS WORD, MS EXCEL, MS POWER POIN, PDF
.
Continue Reading...
 

Daftar Blog

Daftar Blog

  • PROGRAM BANGKIT - Telah di buka Program Bangkit dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) yang merupakan program pembinaan talenta digital untuk mahasiswa ...
    4 tahun yang lalu

Daftar Blog

suhadianto.blogspot.com Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template